This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label join. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label join. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Maret 2015

PELUANG BISNIS OKE

Postingan Ini Tidak Bermaksud Melemahkan MLM manapun, Hanya Menjelaskan ILMU yang Kami Dapat, Kemudian Kami Sharing, Agar Masyarakat Luas itu Terbuka Fikiran/OPEN MIND Terhadap INOVASI Bisnis Jaringan yang Ada, Minimal MIND SET Mereka Berubah dari Negative to Positive kepada Bisnis Jaringan GENERASI BARU.
Yuuk Kita Kupas Beda MLM Vs MCI dalam 5 Bahasan saja (Sebenarnya Banyak, tapi Nanti Kepanjangan, Ini aja Udah Tulisan Terpanjang)
A. MLM (Multi Level Marketing / Plesetannya : Masuk Langsung Melarat/Masuk Langkah Mati) Bagi Member yang Modal Pas-Pasan, namun Bagi yang Modal Gede & Berduit, mungkin Ga Ada Masalah.
Kok gitu??
Ya gitu. Coba Teliti aja Sendiri!
Sudah Pengetahuan Umum di MLM :
1. Anda Memiliki KEWAJIBAN untuk TUPO (TUTUP POINT) SETIAP BULAN.
Tupo itu Anda Harus Belanja Produk Minimal untuk CAIR BONUS Bulanan, Ga Peduli Produk tersebut, Anda Butuhkan Saat ini atau Tidak!
2. Ga Tupo = Bonus Ga Cair. Jika Bonus Cair Rekening Anda Membeku. (Kaciaan Ga ya?)
3. Di bawah “Kesenioran System” Tupo itu, Mau Ga Mau, Suka Ga Suka, Anda Harus Pandai JUALAN, Kalau Ga Pandai Menjual, Siap-siap di Rumah Anda Harus Sedia Gudang Buat Nampung Barang-barang Hasil Tupo. Ini Terjadi Jika Produknya Berukuran Besar ya, Kalau Produknya Ukuran Kecil, Minimal Sedian Beberapa Lemari.
(Pengakuan Para Mantan Pemain MLM yang Pernah Saya Bertemu Langsung, Rata-Rata Curhat Mereka itu Sama)
4. Anda TUPO, Upline Anda yang Dapat Bonus Lebih Banyak. Makanya Rata-Rata MLM System Tupo Pamerin KASTA/Level/Peringkat sebagai Prestasi & Jenjang Karir, Supaya Orang Cepat Tertarik Bonus-Bonus Waaah Upline Mereka.
5. Bonusnya Dibayar Bulanan.
Nunggu Sebulan Baru Cair, Berarti dalam Setahun Cuma Dapat Bonus 12 Kali ya? Benar Ga sih?
Bagi Pemodal Pas-Pasan, Duit udah Habis untuk Tupo, tapi Bonusnya Mesti Nunggu Sebulan, Mending Kalau Bonusnya Lebih Banyak dari Belanja Tupo. Lha, Jika Faktanya Lebih Sedikit = TEKOR dong!
MLM Model seperti Ini, Pertanyaannya adalah :
“Apakah Ga Membuat Hidup Anda Menjadi Langsung Melarat?”
Think Smart!
B. MLM ala MCI (Multi Level Manfaat) 
1. Produk Anda Beli Sesuai KEBUTUHAN Anda atau Request dari Konsumen Anda.
Jadi Ga Numpuk Produk di Rumah.
(Bahkan Saya Sering Ga Ada Produk, coz Kehabisan Dibeli Pelanggan dari Berbagai Wilayah/Daerah, Hamdalah ya).
2. Ga Ada System Tupo
3. Ga Ada Target Penjualan yang Dipaksakan/Kewajiban oleh Perusahaan, Target Menjadi HAK para Member Sesuai Kemampuan utk Sukses.
4. System Kerja Tidak Menganut Paham “Menggemukkan Upline.”
5. Bonus Cair Harian Dibayar Di Hari Input (Hari kerja)
Di MCI » Kerja Keras + Cerdas Anda Hari ini Dibayar Pantas Besoknya.
Pedoman dalam Islam : “Bayarlah Upah/Gaji Pekerjamu sebelum Keringatnya Mengering!”
6. Sistemnya ADIL hanya yang menjual yang dapat bonusnya
Jadi...???
Pilih Mana : MLM System TUPO atau MLM ala MCI?


Jumat, 27 Februari 2015

KITA SELALU BERHUTANG PADA ANAK-ANAK KITA


Kita selalu berhutang banyak cinta kepada anak-anak. Tidak jarang, kita memarahi mereka saat kita lelah. Kita membentak mereka padahal mereka belum benar-benar paham kesalahan yang mereka lakukan. Kita membuat mereka menangis karena kita ingin lebih dimengerti dan didengarkan. Tetapi seburuk apapun kita memperlakukan mereka, segalak apapun kita kepada mereka, semarah apapun kita pernah membentak mereka... Mereka akan tetap mendatangi kita dengan senyum kecilnya, menghibur kita dengan tawa kecilnya, menggenggam tangan kita dengan tangan kecilnya... Seolah semuanya baik-baik saja, seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya... Mereka selalu punya banyak cinta untuk kita, meski seringkali kita tak membalas cinta mereka dengan cukup.
Kita selalu berhutang banyak kebahagiaan untuk anak-anak kita. Kita bilang kita bekerja keras demi kebahagiaan mereka, tetapi kenyataannya merekalah yang justru membahagiakan kita dalam lelah di sisa waktu dan tenaga kita. Kita merasa bahwa kita bisa menghibur kesedihan mereka atau menghapus air mata dari pipi-pipi kecil mereka, tetapi sebenarnya kitalah yang selalu mereka bahagiakan... Merekalah yang selalu berhasil membuang kesedihan kita, melapangkan kepenatan kita, menghapus air mata kita.
Kita selalu berhutang banyak waktu tentang anak-anak kita. Dalam 24 jam, berapa lama waktu yang kita miliki untuk berbicara, mendengarkan, memeluk, mendekap, dan bermain dengan mereka? Dari waktu hidup kita bersama mereka, seberapa keras kita bekerja untuk menghadirkan kebahagiaan sesungguhnya di hari-hari mereka, melukis senyum sejati di wajah mungil mereka?
Tentang anak-anak, sesungguhnya merekalah yang selalu lebih dewasa dan bijaksana daripada kita. Merekalah yang selalu mengajari dan membimbing kita menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya. Seburuk apapun kita sebagai orangtua, mereka selalu siap kapan saja untuk menjadi anak-anak terbaik yang pernah kita punya.
Kita selalu berhutang kepada anak-anak kita... Anak-anak yang setiap hari menjadi korban dari betapa buruknya cara kita mengelola emosi. Anak-anak yang terbakar residu ketidakbecusan kita saat mencoba menjadi manusia dewasa. Anak-anak yang menanggung konsekuensi dari nasib buruk yang setiap hari kita buat sendiri. Anak-anak yang barangkali masa depannya terkorbankan gara-gara kita tak bisa merancang masa depan kita sendiri.
... Tetapi mereka tetap tersenyum, mereka tetap memberi kita banyak cinta, mereka selalu mencoba membuat kita bahagia.
Maka dekaplah anak-anakmu, tataplah mata mereka dengan kasih sayang dan penyesalan, katakan kepada mereka, "Maafkan untuk hutang-hutang yang belum terbayarkan... Maafkan jika semua hutang ini telah membuat Tuhan tak berkenan. Maafkan karena hanya pemaafan dan kebahagiaan kalianlah yang bisa membuat hidup ayah dan ibu lebih baik dari sebelumnya... Lebih baik dari sebelumnya."

Fahd Pahdepi