This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label sharing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sharing. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Maret 2015

MARKETING JEMPOL

Siapa yang masih ngiklan di media cetak?
Siapa yang masih suka nyebar brosur?
Apakah ada yang masih jualan retail door to door?
Adakah yang masih presentasi pakai kertas?
Ntah kapan terakhir kali saya iklan di media cetak..
2 tahun lalu, saya juga masih ngeyel membeli majalah cetak dibanding digital. Sudah setahun ini saya nyaris tak pernah beli majalah cetak, semua via aplikasi Scoop dan membaca di tablet saya. Disamping lebih murah, juga semua koleksi bisa dibawa kemana-mana. Praktis..!
Seperti pepatah, “Datangnya cinta karena terbiasa..”, tambahan lagi “..meski awalnya harus dipaksa..”, hehe…
Mau bukti nyata lagi? Tanyakan saja kawan Anda yang berusia 17 – 35 tahun, pendidikan minimum SMU, apakah mereka pernah BELANJA ONLINE? Maka Anda akan menemukan 50% lebih akan menjawab “IYA..!”
Wake Up Bro, Sis..
Masih ingat quote ini:
“You can not live with yesterday standard and expect extraordinary income today..”
Media Pemasaran sudah bergeser dari cetak ke digital. Sudah gak jamannya dari mulut ke mulut lagi, tapi dari jempol ke jempol. Kecuali target pasar Anda bukan NETIZEN atau bukan pengguna internet.
Kecerdasan Berbicara juga bergeser menjadi Kecerdasan Menulis (copywritting).
Marketing One to One, sudah menjadi Many to Many.
Sekali posting:
>> Kawan-kawan Anda melihat dan mereka berbagi (share).
>> Kawannya kawan dan kawan kawannya kawan pun ikut berbagi.
>> Pembeli datang dari mata air yang tak disangka-sangka.
Bandingkan dengan biaya brosur cetak, yang linier dan kringetan membaginya.
Maka jangan kaget jika melihat anak-anak muda yang tak berkeringat saat kerja, tapi hasilnya miliaran sebulan. Itulah akibat Jempol Quotient (Kecerdasan Jempol).
Apa langkah kongkritnya? Belajarlah ilmu menjual dengan ketikan alias copywritting..
Pelajari ilmu SEO (web), social media dan aplikasi pembantunya. Hemat waktu, hemat biaya, omzet meroket… Gak pakai kringetan..! (yuk bisnis)

Sabtu, 28 Februari 2015

Galakkah aku??

Masih ingatkah kita pada suatu hari? Hari dimana kita menantinya selama sembilan bulan lebih dengan penuh doa dan harapan. Hari disaat kita melahirkan seorang bayi mungil nan lucu. Wajahnya yang polos…tatapan matanya yang penuh keteduhan…suara tangisnya yang teramat syahdu seolah melebur seluruh peluh yang kita rasakan selama mengandungnya. Serasa melenyapkan seluruh rasa perih tatkala melahirkannya. Hari itu hari terbahagia bagi kita, seorang ibu.
Waktu pun berlalu begitu cepat, hari berganti hari bulan berganti bulan ia tumbuh menjadi bayi yang lucu. Tingkahnya, tawanya bahkan tangisnya pun terkadang membuat kita selalu merindukannya. Hingga akhirnya bayi kita tumbuh menjadi seorang anak. Ia semakin pandai mengungkapkan apa yang menjadi keinginannya. Tak sekedar dengan ucapan tapi juga tangisan, teriakan bahkan amukan ia lakukan demi mendapatkan apa yang ia inginkan. Lantas apakah kita masih seperti yang dulu? Menikmati apa yang ia lakukan dengan senyuman dan kesabaran? Ataukah saat ini kita telah berubah menjadi seorang ibu super proteksi, membatasi setiap ruang gerak anak kita?
Wahai para ibu, dulu engkau lahirkan anakmu dengan penuh haru dan kini engkau ingin merobek jiwanya dengan sifat kasarmu?? Ada apa denganmu? Relakah kita mendapat gelar “Ibu galak” dari darah daging kita sendiri?? Sungguh kita tidak akan pernah mau menerima gelar itu.
Mengapa Harus Galak?
Pernah menguji masakan yang kita masak apakah benar-benar lezat ataukah sekedar berasa standart saja? Lidah siapa yang kita gunakan untuk mencicipi masakan kita agar hasilnya lebih objektif? Tentu kita akan meminta orang lain merasakan masakan kita, apakah memang benar-benar lezat atau masih ada rasa janggal di lidah. Demikian halnya dengan sikap yang kita lakukan pada anak sehari-hari. Kita tidak akan bisa menilai dengan objektif bahwa diri kita ini bukan “ibu galak” bagi anak kita. Justru anak kita lah yang mampu merasa dan mengambarkan bagaimana diri kita selama mendidik dan merawatnya.
Tanpa kita sadari, lisan kita begitu mudah mengeluarkan kalimat hinaan dan cacian pada anak. Menghardiknya, menganggapnya seolah hanya makhluk kecil yang tidak memiliki hak untuk didengar suaranya. Bahkan kita pun menjatuhkan sebuah pukulan padanya. Menyesalkah kita? Ya, biasanya tatkala malam datang dan anak kita mulai terlelap dalam mimpinya kita akan menghampirinya seolah ingin membangunkan dan mengatakan “Maafkan Ibu, Nak. Ibu sebenarnya sayang sekli padamu”. Kendati demikian kita pun mengulangi hal serupa lagi di keesokan harinya, menjadi ibu galak.
Seorang ibu galak biasanya pernah mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan dari orangtuanya dahulu. Masa lalu yang dipenuhi dengan kekerasan, cacian dan hinaan akan terekam kuat di dalam memori otaknya. Hingga pada akhirnya memori itu akan menyala secara otomatis. Artinya ia akan menerapkan hal serupa pada anaknya seperti apa yang ia peroleh dulu dari orangtuanya. Relakah kita menjadi sebab anak-anak kita kelak melakukan hal yang sama? Mengapa kita tidak memilih mendidiknya dengan penuh kelembutan, cinta dan kesabaran hingga anak keturunan kita kelak pun akan terdidik dengan hal yang serupa. Mari kita berbenah, mengapa kita harus galak.
Ibuku Memang Galak
Bagaimana rasanya bila suatu hari kita mendengar pengakuan dari anak kita “Ibu galak!! Aku gak suka sama ibu.” Terasa melemah tulang persendian kita. Mengapa anak kita sendiri mengatakan hal itu, padahal apa yang kita lakukan selama ini demi kebaikannya. Tapi itulah faktanya. Versi anak, kita memang galak. Saatnya mengoreksi diri kita masing-masing apakah kita memang galak menurut anak?
Kita galak karena kita sering memaksa anak menyukai sesuatu yang sebenarnya sangat ia benci. Ia ingin memakai baju warna biru, tapi kita paksa ia agar memakai baju warna merah dengan alasan lebih bagus. Padahal ia sama sekali tak suka dengan warna merah. Ia memiliki kesukaan warna sendiri tidak harus sama dengan kita. Kenapa kita memaksanya?
Kita galak karena kita sering mengatakan padanya “Berhenti!!!”, “Jangan!!” dan “Tidak boleh”. Semakin sering kita mengatakan hal itu maka semakin tertanam di hati anak bahwa kita adalah sosok yang galak. Mengapa demikian? Karena anak merasa selalu dibatasi dan dilarang, padahal fitroh seorang anak kecil adalah ingin mencoba dan mengetahui banyak hal. Lantas apakah kita membiarkan anak melakukan hal-hal yang bisa membahayakan dirinya? Tentu saja tidak. Kita bisa menggunakan bahasa yang lain dengan hakikat yang sama. Misalnya anak kita bermain di air genangan hujan yang kotor, cukup katakan “Adik, suka ya main di air? Coba dilihat airnya itu bersih nggak ya, kalau kotor adik harus segera cuci tangan sebelum kuman-kumanya pindah ke tangan adik.” Simple, tak terlihat unsur melarang.
Kita memang galak, beberapa kali kita lontarkan kalimat ancaman pada anak, menakut-nakuti anak manakala ia tidak melakukan apa yang kita perintahkan. Membandingkan anak dengan orang lain dan menuntut anak berprestasi di luar batas kemampuannya. Padahal anak kita tak mugkin sama dengan siapa pun. Jadi, kita memang galak versi anak.
Redam Karakter Galak
Lambat tapi pasti anak kita akan tumbuh menjadi dewasa. Saat hari itu tiba kita akan merindukanya, merindukan “kenakalan” anak kita. Namun kita tak akan mampu memutar ulang waktu. Hari itu anak kita akan sibuk dengn dunia baru, pekerjaan dan keluarganya. Saat itu tiba, kita baru menyadari dan menyesali bahwa kita belum mampu menanam benih kecintaan untuknya. Hingga kita pun tak bisa memanen kebahagian di hari itu. Apakah kita akan membiarkan hal itu terjadi? Tentu saja tidak. Kita harus meredam karakter galak yang melekat pada diri kita, sekarang juga.
Hindari amarah, berwudhu dan menjauh dari anak saat ia melakukan hal-hal yang mudah memancing emosi kita. Tahanlah lisan kita, pahami bahwa seorang anak memang memiliki karakter yang unik. Anak bukan miniatur orang dewasa yang harus bertingkah laku selayaknya orang dewasa. Anak tetaplah anak. Sadarkah kita wahai para ibu, kita bisa pandai mendidiknya tak lain adalah karena ulah anak-anak kita sendiri. Merekalah sesungguhnya guru kita. Merekalah yang menjadikan kita terampil dalam bersikap.
Saatnya menyadari bahwa anak adalah amanah dari Allah. Amanah yang wajib kita jaga lahir dan batinnya. Tak boleh kita lukai dengan alasan apapun juga. Akan tiba saatnya kita harus mempertanggungjawabkan semua itu di hadapan Allah. Apa jawaban kita kelak, apakah kita akan menjawab bahwa kita melakukan itu karena kita sayang padanya? Sungguh tidak ada yang akan luput dari pengawasan Allah.
Edisi menghakimi diri.....


Jumat, 27 Februari 2015

TUJUH HAL YANG HARUS DIHINDARI DALAM BERUMAH-TANGGA

Kami percaya bahwa pernikahan adalah komitmen bersama antara dua individu. Kebahagiaan sebuah rumah tangga tidak ditentukan oleh seorang istri, juga tidak dikendalikan oleh seorang suami, tetapi oleh keduanya. Suami dan istri adalah sepasang sepatu yang harus berjalan beriringan dan berdampingan… Meski keduanya melangkah dengan cara dan gaya yang berbeda, tetapi memiliki satu tujuan yang sama. Cara berjalan yang baik tidak ditentukan oleh kaki mana yang paling banyak menopang atau menumpu, kan? Seperti sepasang sepatu yang saling melengkapi, masing-masing pihak dalam rumah tangga memiliki perannya masing-masing… Dan perlu diingat, keduanya sama-sama penting
Kami percaya bahwa kami akan memiliki pernikahan yang lebih baik, keluarga yang bahagia, dan kualitas kehidupan yang dipenuhi keberkahan, jika masing-masing kami menjadi individu-individu yang berusaha menjadi lebih baik setiap harinya—tentu dengan saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Bagaimana caranya? Setiap hari kami berlatih untuk menghindari tujuh hal berikut ini :
Pertama, saling membicarakan di belakang. Dalam kondisi apapun, kami selalu berusaha untuk tidak membicarakan pasangan tanpa sepengetahuannya, bahkan termasuk kepada orangtua masing-masing. Tak jarang ibu saya diam-diam bertanya tentang suami, barangkali ingin memastikan apakah saya bahagia atau tidak? Jika hal seperti ini terjadi, saya biasanya meminta ibu untuk mengobrol langsung dengan suami, tentang apa saja. “Nanti ibu akan tahu sendiri, kok,” jawab saya sambil tersenyum. Saya tidak mau menggosipkan suami saya di belakang. Banyak keluarga berantakan hanya gara-gara seorang suami menggosipkan istri kepada ibunya sendiri, untuk kemudian menanam rasa curiga dan tidak suka di antara menantu dan mertua—yang kelak menjadi bom waktu yang membawa pada banyak pertengkaran dalam keluarga.
Kedua, men-judge pasangan. Dalam sebuah hubungan, kadang-kadang kita tergoda untuk memberikan penilaian-penilaian kepada pasangan masing-masing. Sebisa mungkin kami menghindari ini. Men-judge pasangan, misalnya menyebut istri nggak nurut, menyebut suami pemalas, atau lainnya, bagi kami adalah sikap yang sombong. Ada relasi AKU-KAMU yang arogan di dalamnya, seolah-olah ingin mengatakan ‘aku benar’ dan ‘kamu salah’. Rumah tangga adalah tentang KAMI. Dalam relasi ‘kami’, kebenaran, kesalahan, kesedihan, dan kebahagiaan tidak pernah hanya milik dan tanggungjawab salah satu pihak saja—tetapi milik dan tanggung jawab bersama. Misalnya, jika suami benar, bukan berarti istri salah… Barangkali sang istri perlu pengetahuan dan pengalaman baru, kan?
Ketiga, pikiran negatif. Saya ingat penjelasan Louis L. Hay tentang bagaimana pikiran begitu memengaruhi kehidupan kita. Jika pagi-pagi kita berpikir “Ini akan jadi hari yang buruk!”, maka hari itu akan jadi hari yang buruk karena kita terus-menerus tidak percaya bahwa akan ada sesuatu yang membahagiakan kita. Bayangkan apa jadinya jika istri terus berpikir “suami saya tidak pengertian” atau “suami saya tidak setia”? Apa jadinya jika suami atau istri sama-sama berpikir bahwa rumah tangganya tidak akan bahagia dan tidak akan berlangsung lama?
Keempat, komplain. Ini memang sulit untuk dihindari, saya pun masih terus belajar. Tapi, sangat penting untuk berusaha tidak komplain pada pasangan. Tentang masakan yang kurang asin, mungkin kita bisa meminta garam daripada komplain tentang masakan istri kita itu, kan? Makanan yang kurang asin tidak akan menyakiti kita, tetapi kata-kata kita tentangnya bisa menyakiti istri kita. Suatu hari suami mengatakan ini kepada saya: “Heran deh sama suami yang suka komplain sama penampilan istrinya. Harusnya sering-sering ajak istrinya ke butik, toko tas, atau toko kosmetik, dong. Simple, kan?”
Kelima, tidak mau mengakui kesalahan dan saling menyalahkan. Menurut saya, ini hal yang paling sulit. Mungkin kita perlu bertanya pada diri masing-masing, jika mengalami kesulitan, kemalangan, atau ketidakberuntungan… Seberapa sering kita memilih mengatakan “ini gara-gara kamu, sih!” daripada “Ini salahku”? Seberapa sering kita menunjuk hidung pasangan kita sambil berkata “harusnya kamu begini” atau “harusnya jangan begitu” daripada “maafkan aku”?
Keenam, berbohong. Sederhana saja: Kita tidak suka dibohongi, maka jangan membohongi orang lain. Dan kita tahu bahwa perselingkuhan, pengkhianatan, juga kebohongan-kebohongan besar lainnya selalu dimulai dari hal-hal paling sepele dan remeh-temeh di keseharian.
Ketujuh, dogmatisme. Saya sering menemukan suami yang seenaknya berlindung di balik ayat bahwa ‘kedudukan laki-laki di atas perempuan’ (ar-rijâlu qawwamûna ‘alan-nisâ) untuk bertindak sewenang-wenang pada istrinya—bahkan bersikap otoriter. Bagi saya, mereka gagal memahami kata ‘qawwam’ yang tidak semata-mata berarti ‘di atas’ tetapi juga bermakna ‘melindungi’, ‘mengayomi’, ‘menyayangi’ dan ‘menjaga’. Tidak jarang juga kita menemukan para suami yang ngotot melakukan poligami karena itu ‘sunnah’ tetapi gagal memahami konteks dan enggan menjalankan sunnah-sunnah Nabi yang lainnya. Para istri juga tidak ketinggalan, sebenarnya. Dengan memanfaatkan hadits ‘sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada istri kalian’, para istri sering membuat suami terpojok dan menuntut ini-itu tanpa memerhatikan kondisi si suami.
Setiap hari, saya dan suami berlatih untuk menghindari tujuh hal itu. Kadang-kadang kami gagal. Tetapi kami tidak berhenti. Pernikahan adalah komitmen untuk saling menerima kekurangan dan bersama-sama menutupi serta memperbaiki kekurangan-kerungan itu. Pernikahan adalah sekolah kehidupan yang setiap hari memaksa suami dan istri untuk belajar, untuk saling menasihati dalam kebaikan, dan saling menolong dalam kesabaran. Tak salah sekolah ini disebut ‘rumah-tangga’: Semestinya suami dan istri memang sama-sama berumah dalam cinta, bergandengan tangan meniti tangga ke surga kebahagiaan bersama!

KITA SELALU BERHUTANG PADA ANAK-ANAK KITA


Kita selalu berhutang banyak cinta kepada anak-anak. Tidak jarang, kita memarahi mereka saat kita lelah. Kita membentak mereka padahal mereka belum benar-benar paham kesalahan yang mereka lakukan. Kita membuat mereka menangis karena kita ingin lebih dimengerti dan didengarkan. Tetapi seburuk apapun kita memperlakukan mereka, segalak apapun kita kepada mereka, semarah apapun kita pernah membentak mereka... Mereka akan tetap mendatangi kita dengan senyum kecilnya, menghibur kita dengan tawa kecilnya, menggenggam tangan kita dengan tangan kecilnya... Seolah semuanya baik-baik saja, seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya... Mereka selalu punya banyak cinta untuk kita, meski seringkali kita tak membalas cinta mereka dengan cukup.
Kita selalu berhutang banyak kebahagiaan untuk anak-anak kita. Kita bilang kita bekerja keras demi kebahagiaan mereka, tetapi kenyataannya merekalah yang justru membahagiakan kita dalam lelah di sisa waktu dan tenaga kita. Kita merasa bahwa kita bisa menghibur kesedihan mereka atau menghapus air mata dari pipi-pipi kecil mereka, tetapi sebenarnya kitalah yang selalu mereka bahagiakan... Merekalah yang selalu berhasil membuang kesedihan kita, melapangkan kepenatan kita, menghapus air mata kita.
Kita selalu berhutang banyak waktu tentang anak-anak kita. Dalam 24 jam, berapa lama waktu yang kita miliki untuk berbicara, mendengarkan, memeluk, mendekap, dan bermain dengan mereka? Dari waktu hidup kita bersama mereka, seberapa keras kita bekerja untuk menghadirkan kebahagiaan sesungguhnya di hari-hari mereka, melukis senyum sejati di wajah mungil mereka?
Tentang anak-anak, sesungguhnya merekalah yang selalu lebih dewasa dan bijaksana daripada kita. Merekalah yang selalu mengajari dan membimbing kita menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya. Seburuk apapun kita sebagai orangtua, mereka selalu siap kapan saja untuk menjadi anak-anak terbaik yang pernah kita punya.
Kita selalu berhutang kepada anak-anak kita... Anak-anak yang setiap hari menjadi korban dari betapa buruknya cara kita mengelola emosi. Anak-anak yang terbakar residu ketidakbecusan kita saat mencoba menjadi manusia dewasa. Anak-anak yang menanggung konsekuensi dari nasib buruk yang setiap hari kita buat sendiri. Anak-anak yang barangkali masa depannya terkorbankan gara-gara kita tak bisa merancang masa depan kita sendiri.
... Tetapi mereka tetap tersenyum, mereka tetap memberi kita banyak cinta, mereka selalu mencoba membuat kita bahagia.
Maka dekaplah anak-anakmu, tataplah mata mereka dengan kasih sayang dan penyesalan, katakan kepada mereka, "Maafkan untuk hutang-hutang yang belum terbayarkan... Maafkan jika semua hutang ini telah membuat Tuhan tak berkenan. Maafkan karena hanya pemaafan dan kebahagiaan kalianlah yang bisa membuat hidup ayah dan ibu lebih baik dari sebelumnya... Lebih baik dari sebelumnya."

Fahd Pahdepi