This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Maret 2015

AKU DAN KAMU, SAMA

  • Siapa pernah GAGAL?
  • Siapa pernah BANGKRUT?
  • Siapa pernah terbelit HUTANG?
  • Siapa pernah PUTUS ASA?
Sama saya juga pernah ^_^
Saat kita mengalami keGAGALan ucapkan Alhamdulillah. Itu artinya kita disuruh belajar lagi untuk menambah ilmu agar semakin pintar dan naik kelas.

BANGKRUT artinya harus lebih banyak ucap syukur karena diberi kesempatan evaluasi diri dari segi ibadah, pekerjaan, sikap dll. Menurut kita bisnis/pekerjaan yang kita jalani "benar" dan baik, mungkin menurut Allah itu bukan yang terbaik.

Siapasih yang ga pernah berHUTANG? Besar ataupun sedikit pasti hampir semua mengalami. Ada siklus dimana kita membutuhkan pertolongan orang lain, dan ada saatnya kita membantu mereka. Dan hanya Allah yang bisa melapangkan dada manusia saat terbelenggu hutang. Perbanyak sedekah walau keadaan sempit.

PUTUS ASA adalah dosa. Dan itu benar adanya. Hanya ada 1 solusi : BANGKIT! ya hanya itu caramu tidak terbelenggu dosa karena putus asa. Allah tidak tidur, Allah sedang menunggumu, Allah memandangmu, Allah mau kamu bangkit dan berucap BISMILLAH aku akan BANGKIT! Maka pertolongan Allah akan datang dari segala penjuru, dari arah dan jalan yang tidak di sangka"... insyaAllah.. Perbanyak silaturahim, diskusi, baca, mendengar dan belajar.


Salam Sukses



Minggu, 01 Maret 2015

MARKETING JEMPOL

Siapa yang masih ngiklan di media cetak?
Siapa yang masih suka nyebar brosur?
Apakah ada yang masih jualan retail door to door?
Adakah yang masih presentasi pakai kertas?
Ntah kapan terakhir kali saya iklan di media cetak..
2 tahun lalu, saya juga masih ngeyel membeli majalah cetak dibanding digital. Sudah setahun ini saya nyaris tak pernah beli majalah cetak, semua via aplikasi Scoop dan membaca di tablet saya. Disamping lebih murah, juga semua koleksi bisa dibawa kemana-mana. Praktis..!
Seperti pepatah, “Datangnya cinta karena terbiasa..”, tambahan lagi “..meski awalnya harus dipaksa..”, hehe…
Mau bukti nyata lagi? Tanyakan saja kawan Anda yang berusia 17 – 35 tahun, pendidikan minimum SMU, apakah mereka pernah BELANJA ONLINE? Maka Anda akan menemukan 50% lebih akan menjawab “IYA..!”
Wake Up Bro, Sis..
Masih ingat quote ini:
“You can not live with yesterday standard and expect extraordinary income today..”
Media Pemasaran sudah bergeser dari cetak ke digital. Sudah gak jamannya dari mulut ke mulut lagi, tapi dari jempol ke jempol. Kecuali target pasar Anda bukan NETIZEN atau bukan pengguna internet.
Kecerdasan Berbicara juga bergeser menjadi Kecerdasan Menulis (copywritting).
Marketing One to One, sudah menjadi Many to Many.
Sekali posting:
>> Kawan-kawan Anda melihat dan mereka berbagi (share).
>> Kawannya kawan dan kawan kawannya kawan pun ikut berbagi.
>> Pembeli datang dari mata air yang tak disangka-sangka.
Bandingkan dengan biaya brosur cetak, yang linier dan kringetan membaginya.
Maka jangan kaget jika melihat anak-anak muda yang tak berkeringat saat kerja, tapi hasilnya miliaran sebulan. Itulah akibat Jempol Quotient (Kecerdasan Jempol).
Apa langkah kongkritnya? Belajarlah ilmu menjual dengan ketikan alias copywritting..
Pelajari ilmu SEO (web), social media dan aplikasi pembantunya. Hemat waktu, hemat biaya, omzet meroket… Gak pakai kringetan..! (yuk bisnis)

Sabtu, 28 Februari 2015

Kau...takkan tergantikan selamanya

Siang itu, sms mendarat di ponselku..
"Kami dari RS..menginfokan bahwa mulai besok tanggal...Anda bisa bergabung dan bekerja di RS kami, Terimakasih"
Senang? Tentu saja..karena kupikir inilah saatnya aku menajamkan kembali ilmuku. Toh tak ada yang salah dengan pekerjaan ini. Aku hanya akan melayani sesama wanita dan makhluk baru yang super lucu.
Berbekal izin dan ridho kekasih hati, kumantapkan diri...
"Aku akan kembali bekerja seperti saat aku belum berstatus menjadi seorang istri"
Dia, mengantarkanku ke RS itu. Dia berpesan agar aku senantiasa menjaga diri, kapan dan di manapun. Sementara si mungil cantik yang kala itu berusia 18 bulan kutitipkan bersama dengan kakak perempuanku. Segudang harapan tertumpuk dalam benak, aku akan berjuang membantu kaumku dan aku pun pasti bisa membagi waktuku dengan suami dan putri kecilku.
Satu jam berlalu tanpa ada aral melintang. Kudampingi seorang wanita yang berada dalam sebuah ruangan. Kami bersiap untuk berjuang dalam suatu fase yang amat sangat dirindukan semua wanita. Fase itu tak lain adalah persalinan.
Kuamati lembar kemajuan persalinan, saat itu pembukaan masih 4 dengan kondisi mulut rahim tipis dan kepala sudah masuk panggul, serta his yang adekuat. Perkiraanku hanya butuh waktu 2-3 jam ia akan segera melahirkan sang bayi.
Tiba-tiba ponselku berdering...
Dan terdengar suara dari seberang sana yang mengabarkan bahwa aku akan segera dijemput PULANG.
Hah??
Ya, aku harus pulang...karena putri kecilku menangis tiada henti hinga ia nyaris kehilangan suara dan tak lagi meneteskan air mata. Bahkan sampai terlihat sesak nafas.
Kala itu, egoku muncul...
Kenapa gak dihibur?
Kenapa gak diajak jalan-jalan?
Kenapa kakakku tidak bisa mendiamkan anakku?? Bukankah ia jg wanita? Bukankah sangat mudah bagi wanita untuk mendiamkan seorang anak kecil??
Namun, suara di seberang sana tak mau lagi mendengar jawabanku. Ia yang akan langsung menghadap Direktur RS dan ia memintaku bersiap karena 15 menit lagi ia akan sampai di RS ini.
Layu dan lemah rasanya tubuh ini. Aduhai, ini hari pertamaku kembali berkarir, ups bahkan jam pertamaku berada di RS. Kenapa aku harus menyudahinya secepat kilat??
Kuberanikan diri menghadap teman sejawatku dan kusampaikan apa adanya, bahwa aku HARUS pulang.
--------------------------------------------------------------------
Dari luar pagar...
Kudengar jelas rintihan kecil dari putri mungilku...bergegas kucuci kedua tanganku dan menghambur ke arah suara itu...
Dan....
Anakku tersenyum, aku tak bisa memaknainya...
Katanya ia menangis tiada henti? Katanya ia sesak nafas? Katanya ia sulit didiamkan??
Ternyata??
Hanya dengan melihat wajahku, belum jua kusentuh dan kupeluk tubuh mungilnya...hilang sudah apa yang ia rasakan tadi. Ia tersenyum meski berat karena pengaruh isaknya. Ia mengulurkan kedua tangannya padaku, dan hanya ingin berada dalam pelukkanku
Duh Gusti...
Sebegitu berhargakah aku baginya??
Sebesar inikah ia membutuhkanku??
Betapa bodohnya aku, menukar semua ini dengan lembaran-lembaran uang yang pada hakikatnya akan musnah dalam sekejap!!
Kupandangi ia yang teramat tenang dalam dekapanku, ku kecup keningnya...ku bisikkan...
"Kau, tak kan terganti selamanya"

Sukses itu Ga Instan

Tidak Ada Jalan Pintas
Keberhasilan tak diperoleh begitu saja. Ia adalah buah dari pohon kerja keras yang berjuang untuk tumbuh. Jangan terlalu berharap pada kemujuran.
Apakah kita tahu apa itu kemujuran? Apakah kita dapat mendatangkan kemujuran sesuai keinginan kalian? Padahal kita tahu, kita tak selalu mampu menjelaskan dari mana datangnya.
Sadarilah bahwa segala sesuatu berjalan secara alami dan semestinya. Layaknya proses mendaki tangga, kita melangkahkan kaki melalui anak tangga satu per satu.
Tak perlu repot-repot membuang waktu untuk mencari jalan pintas, karena memang tak ada jalan pintas. Sesungguhnya kemudahan jalan pintas itu takkan pernah memberikan kepuasan sejati.
Untuk apa berhasil jika kita tak merasa puas?
Hargailah setiap langkah kecil yang membawa anda maju. Janganlah melangkah dengan ketergesaan, karena ketergesaan adalah beban yang memberati langkah saja.
Amatilah jalan lurus. Tak peduli bergelombang maupun berbatu, selama kita yakin berada di jalan yang tepat, maka melangkahlah terus.
Ketahuilah, jalan yang tepat itu adalah jalan yang menuntun kita menjadi diri kita sendiri.


Jumat, 27 Februari 2015

KITA SELALU BERHUTANG PADA ANAK-ANAK KITA


Kita selalu berhutang banyak cinta kepada anak-anak. Tidak jarang, kita memarahi mereka saat kita lelah. Kita membentak mereka padahal mereka belum benar-benar paham kesalahan yang mereka lakukan. Kita membuat mereka menangis karena kita ingin lebih dimengerti dan didengarkan. Tetapi seburuk apapun kita memperlakukan mereka, segalak apapun kita kepada mereka, semarah apapun kita pernah membentak mereka... Mereka akan tetap mendatangi kita dengan senyum kecilnya, menghibur kita dengan tawa kecilnya, menggenggam tangan kita dengan tangan kecilnya... Seolah semuanya baik-baik saja, seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya... Mereka selalu punya banyak cinta untuk kita, meski seringkali kita tak membalas cinta mereka dengan cukup.
Kita selalu berhutang banyak kebahagiaan untuk anak-anak kita. Kita bilang kita bekerja keras demi kebahagiaan mereka, tetapi kenyataannya merekalah yang justru membahagiakan kita dalam lelah di sisa waktu dan tenaga kita. Kita merasa bahwa kita bisa menghibur kesedihan mereka atau menghapus air mata dari pipi-pipi kecil mereka, tetapi sebenarnya kitalah yang selalu mereka bahagiakan... Merekalah yang selalu berhasil membuang kesedihan kita, melapangkan kepenatan kita, menghapus air mata kita.
Kita selalu berhutang banyak waktu tentang anak-anak kita. Dalam 24 jam, berapa lama waktu yang kita miliki untuk berbicara, mendengarkan, memeluk, mendekap, dan bermain dengan mereka? Dari waktu hidup kita bersama mereka, seberapa keras kita bekerja untuk menghadirkan kebahagiaan sesungguhnya di hari-hari mereka, melukis senyum sejati di wajah mungil mereka?
Tentang anak-anak, sesungguhnya merekalah yang selalu lebih dewasa dan bijaksana daripada kita. Merekalah yang selalu mengajari dan membimbing kita menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya. Seburuk apapun kita sebagai orangtua, mereka selalu siap kapan saja untuk menjadi anak-anak terbaik yang pernah kita punya.
Kita selalu berhutang kepada anak-anak kita... Anak-anak yang setiap hari menjadi korban dari betapa buruknya cara kita mengelola emosi. Anak-anak yang terbakar residu ketidakbecusan kita saat mencoba menjadi manusia dewasa. Anak-anak yang menanggung konsekuensi dari nasib buruk yang setiap hari kita buat sendiri. Anak-anak yang barangkali masa depannya terkorbankan gara-gara kita tak bisa merancang masa depan kita sendiri.
... Tetapi mereka tetap tersenyum, mereka tetap memberi kita banyak cinta, mereka selalu mencoba membuat kita bahagia.
Maka dekaplah anak-anakmu, tataplah mata mereka dengan kasih sayang dan penyesalan, katakan kepada mereka, "Maafkan untuk hutang-hutang yang belum terbayarkan... Maafkan jika semua hutang ini telah membuat Tuhan tak berkenan. Maafkan karena hanya pemaafan dan kebahagiaan kalianlah yang bisa membuat hidup ayah dan ibu lebih baik dari sebelumnya... Lebih baik dari sebelumnya."

Fahd Pahdepi